KESIAP-SIAGAAN DAN TANGGAP DARURAT PADA KECELAKAAN KERJA DALAM PEKERJAAN PADA KETINGGIAN

KESIAP-SIAGAAN DAN TANGGAP DARURAT

PADA KECELAKAAN KERJA DALAM PEKERJAAN PADA KETINGGIAN

Apakah seorang tenaga kerja pada ketinggian yang bekerja dengan alat pelindung diri (APD) dan alat penahan jatuh perorangan ( APJP ) lengkap sudah terjamin keselamatannya terhadap bahaya jatuh ? Jawabannya tidak !

Alat penahan jatuh perorangan adalah seperangkat alat yang mampu mengurangi dampak jatuh terhadap tubuh seorang tenaga kerja. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kinerja APJP tersebut apakah dapat mengurangi dampak jatuh sebagaimana yang dirancang dan diharapkan.Faktor tersebut antara lain adalah :

  • Rancangan / desain APJP itu sendiri dan pemilihan
  • Cara penggunaan yang baik dan benar
  • Kesiap-siagaan dan tanggap darurat pada kecelakaan kerja korban tergantung.

Rancangan / desain APJP dan pemilihan yang tepat untuk pekerjaan di atas menara telekomunikasi serta cara penggunaannya yang baik dan benar telah sering dibahas dalam beberapa kesempatan. Pada kesempatan ini akan dibahas Kesiap-siagaan dan tanggap darurat pada kecelakaan kerja di menara telekomunikasi.

Sebaik apa pun rancangan / desain APJP, setepat apa pun pemilihannya, kemudian telah pula digunakan secara baik dan benar oleh tenaga kerja terlatih dan berpengalaman, bahaya jatuh ketika bekerja di atas menara telekomunikasi tidak bisa dihilangkan sampai nol (zero). Tetapi hanya bisa mengurangi kemungkinan ( probability ) dan dampak ( impact ) sehingga risiko dapat ditekan sampai batas yang dapat diterima ( accepted ).

Risiko yang dapat diterima tersebut bukan berarti berdiri sendiri, tetapi harus disertai dengan upaya-upaya menekan dampak jatuh dan tergantung pada APJP  sampai batas yang sekecil-kecilnya yang secara tata-kelola dan teknik masih dapat dilakukan. Yaitu : Kesiap-siagaan dan tanggap darurat.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Pekerjaan pada Ketinggian, BAB III Prosedur Kerja, pasal 6, ayat (2.e) mewajibkan adanya kesiap-siagaan dan tanggap darurat.

Rencana tanggap darurat tersebut wajib dibuat oleh pengusaha dan/ atau pengusaha secara tertulis. ( pasal 9, ayat (1).

Dalam pasal 9, ayat (2) diuraikan apa saja Rencana tanggap darurat tersebut, yaitu yang terdiri dari :

  1. Daftar tenaga kerja untuk ( yang mampu) melakukan pertolongan korban pada ketinggian.
  2. Peralatan yang wajib disediakan untuk menangani kondisi darurat yang paling mungkin terjadi.
  3. Fasilitas Pertolongan pertama pada kecelakaan serta sarana evakuasi.
  4. Nomor telepon dari piha-pihak terkait dalam penanganan tanggap darurat; dan
  5. Denah lokasi dan jalur evakuasi korban menuju rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Teknisi yang bekerja pada ketinggian menara telekomunikasi mempunyai kemungkinan jatuh yang lebih besar dibanding tenaga kerja lain yang bekerja pada bangunan tinggi, karena struktur bangunan menara yang berupa rangka baja dan karakter pekerjaan yang menuntut banyaknya pergerakan vertikal, horisontal serta bekerja dalam posisi miring.

Menara telekomunikasi juga banyak yang berlokasi di daerah terpencil, sehingga datangnya bantuan pertolongan dari luar tim kerja dapat sangat lama.

“ TAK KENAL MAKA TAK WASPADA “

Setiap tenaga kerja yang memanjat menara telekomunikasi harus mengenal bahaya apa saja yang mengancamnya, meskipun ia telah menggunakan APJP.

1
Gambar dikutip dari : www.cras.ca

Apa saja bahaya tersebut? Ada 3 bahaya yang mengancam seorang tenaga kerja yang terjatuh dari ketinggian  dan tergantung pada APJP-nya, yaitu :  Terbentur, tersentak dan tergantung.

  1. Terbentur

Seorang tenaga kerja yang terjatuh dari tempatnya berpijak akan meluncur menuju permukaan tanah karena daya tarik bumi ( gravitasi ). Dalam perjalanan meluncur permukaan tanah tersebut korban dapat saja membentur objek yang ada dibawahnya. Oleh karena itu pastikan bahwa jalur jatuh tidak terdapat objek yang membahayakan.

Perlunya diperhatikan posisi angkur APJP dengan tempat berpijak tenaga tenaga kerja. Apabila tegak lurus ke arah permukaan tanah, maka meluncur jatuhnya akan tegak lurus juga. Tetapi apabila membentuk sudut, maka setelah tertahan oleh APJP korban akan berayun (swing) ke arah tegak lurus, ayunan ini dapat membentur objek. Jadi perhatikan fall clearance dan swing.

  1. Tersentak

Seorang tenaga kerja yang jatuh dan tertahan oleh APJPnya akan mengalami sentakan. Berapa besarnya tenaga sentakan tersebut adalah sesuai dengan hukum newton. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kemampuan tubuh untuk menerima sentakan ( force energy ) adalah maksimal 6 kilo newton. Lebih dari jumlah tersebut dapat menimbulkan cidera sampai pada kematian. Untuk mengurangi besarnya force energymaka  :

2
Gambar diolah dari : www.petzl.com
  • selalu kaitkan / pasang angkur APJP pada posisi di atas

kepala, minimal sebatas dada,

  • gunakan tali penahan jatuh sependek mungkin sampai

batas kenyamanan bekerja.

  • Selalu gunakan APJP yang mempunyai alat / mekanisme

Peredamkejut ( absorber )

  • Gunakan fullbody harness yang mampu mendistribusikan

tenaga hentakan ke beberapa titik di tubuh.

 

  1. Tergantung

Apakah seorang tenaga kerja pada ketinggian menara telekomunikasi yang bekerja dengan alat pelindung diri (APD) dan alat penahan jatuh perorangan ( APJP ) lengkap sudah terjamin keselamatannya terhadap bahaya jatuh ? Jawabannya tidak !

3
Gambar dikutip dari : www.rororescue.com

Dalam posisi tergantung dengan fullbody harness, peredaran darah korban akan terjepit oleh fullbody harness, terutama pada bagian selangkangan. Hambatan tersebut akanmenimbulkan gangguan fungsi organ-organ tubuh. Gangguan awal adalah bagian kaki mulai dari selangkangan ke bawah menimbulkan gejala rasa kebas, dalam waktu sekitar 12 menit gangguan tersebut bisa berlanjut pada tubuh bagian tengah dimana terdapat organ penting yang memompa aliran darah ke seluruh tubuh , yaitu jantung dengan gejala menurunnya detak jantung dan rendahnya tekanan darah. Apabila korban tidak segera diselamatkan, korban akan mengalami gangguan fungsi otak, yaitu hilangnya kesadaran, hilangnya kemampuan otot leher unntuk menahan beban kepala, sehingga kepala menjadi lunglai, serta mengendornya otot-otot di saluran pernapasan sehingga menyumbat jalan napas. Pada tingkat ini akan menyebabkan otak korban kekurangan oksigen yang dapat berakhir dengan kematian dalam 30 menit.

Peristiwa ini disebut dengan ketidak tahanan tergantung ataususpension traumaatau suspension intolerance atau syncope.

Untuk mencegah terjadinya suspension intolerance adalah dengan cara :

  • Jangan memakai fullbodyharness terlalu ketat, sehingga ketika tergantung masih memungkinkan melakukan perubahan posisi tubuh di dalam fullbody harness agar pembuluh darah yang terjepit dapat dilonggarkan.
  • Bekerja dan bergerak sehati-hati mungkin , fokus agar jangan sampai tergelincir, hilang keseimbangan yang menyebabkan jatuh.
  • Hal-hal lain yang dapat menyebabkan berkuranganya keseimbangan tubuh, misalnya fatik ( lelah amat sangat ) atau dehidrasi.

 

PENYELAMATAN KORBAN JATUH DAN TERGANTUNG

Dari ketiga potensi bahaya jatuh tersebut, tersentak dan tergantung sudah pasti akan dialami oleh korban yang menggunakan perangkat penahan jatuh perorangan yang kemudian tergantung pada ketinggian.

Seorang tenaga kerja yang mengalami kecelakaan tersebut seyogyanya mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi jika korban tidak mampu, maka upaya penyelamatan yang tercepat hanya dapat diharapkan datang oleh anggota tim kerja lain yang berada di lokasi. Oleh karena itu, sebagai prosedur keselamatan bakuadalah apabila ada teknisi yang sedang memanjat dan bekerja pada ketinggian, harus ada minimal 1 (satu) orang lagi yang bersiaga di permukaan tanah untuk memberikan pertolongan atau mencari bantuan apabila terjadi kecelakaan.  Seseorang yang bersiaga tanggap darurat ( standby rescuer ) tersebut juga harus dilengkapi dengan peralatan evakuasi yang memadai.

RINGKASAN

Menggunakan alat penahan jatuh perorangan ketika bekerja pada ketinggian belum menjamin keselamatan tenaga kerja yang jatuh dan tergantung pada alat penahan jatuhnya. Ada 3 bahaya yang mengancam tenaga kerja yang terjatuh tersebut yaitu : terbentur, tersentak dan tergantung.

Menteri Ketenagakerjaan RI dalam peraturan Nomor 9 tahun 2016 mewajibkan setiap pengusaha / pengurus perusahaan  untuk mempunyai kesiap-siagaan dan rencana tanggap darurat kecelakaan kerja pada ketinggian, termasuk ketersediaan peralatan evakuasi korban dari ketinggian dan perlengkapan P3K.

Apabila ada seorang tenaga kerja bekerja pada ketinggian, maka harus ada satu orang lagi yang siaga di bawah untuk memberikan pertolongan atau mencari bantuan apabila terjadi kecelakaan korban tergantung.

Bahan bacaan :

  1. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan kesehatan Kerja dalam pekerjaan pada ketinggian.
  2. Suspension Trauma : A Lethal cascade of events, Dr. Norman Wood, Internet, www.fallsafety com.
  3. Fall energy and fall factors, www.samarbeidforsikkerhet.no
  4. Guidance on rescue during working at height, The Work at Height Safety Association, www.liftingsafety.co.uk

Musphyanto Chalidaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>