K3 KUNCI KESEJAHTERAAN PEKERJA DAN PERUSAHAAN

Dirut PT. Waterland Nusantara
MUSPHIYANTO CHALIDYA PUTRA Direktur PT Waterland Nusantara

        Lama berkencimpung dalam dunia safety menjadikah musphiyanto berani tegas mangatakan bahwa k3 adalah upaya dari prusahaan untuk melindungi pekerja .laki laki kelahiran tahun 1953 ini pun melanjutkan ,”K3 bukan hanya sebatasitu saja , K3 juga sebagai system yang terpenting di dalam melindungi asset perusahaan ,”ujar ia, jika kedua ini tercappai dan di jalankan dengan baik, tambah ia, maka pekerja dan perusahaan pasti akan sejahtera.
Sekali lagi musphiyanto menegaskan K3 adalah salah satu kunci kesejahteraan pekerja dan perusahaan .K3 juga dapat menjamin kesinambungan usaha karena jka itu bisa berjalan dengan baik maka seluruh asset perusahaan pun pasti akan terpelihara dan berfungsi dengan baik,”ujar ia. Begitu pentingnya “fungsi “ k3 dalam suatu perusahaan, laki laki asal Kalimantan ini mengemukakan alasannya, jika K3 tidak dijalankan dengan baik dan benar maka kualitas tenaga kerja akan terganggu’jika kualitas pekerja terganggu maka hal itu akan berimpas kepada sector pproduksidan kelak perusahaan akan menanggung kerugian jika pekerjannya kurang produktif,”jelas penyuka soto banjar ini.
            K3 harus di terapkan di mana saja, mulai dari rumahh tangga sampai di lapangan kerja, beber ia. Contohk3 di rumah tangga adalah bagaimana menggunakan pisau, dan listrik secara benar . Di jalan juga sepeerti itu.” Setelah keluar dari rumah pasati ada banyak ada bahaya yang mengancam, maka kita perlu waspada dengan cara mengimplementasikannya dengan baik dan benar.”jelas laki laki pehobi aktifitas outdoor ini. K3 adalah tanggung jawab semua orang, tandas bapak dari 3 orang putri ini. Di rumah tangga, misalnya, yang bertanggungjawab adalah kepala rumah tangga. Sedangakan dalam perusahaan – top managemen dan Negara adalah kementrian tenaga kerja . menurut musphiyanto, k3 di idonesia telah menangani peningkatan,dan sosialisasinnya pun sudah dalan proses atau koridor ang benar . Saat ini, k3 sudah mulai disosialisasikan ke SMK, perguruan tinggi dan UKM.” Namun, sosialisasiharus lebih di galakan lagi melalui mass media seperti televise, radio , majalah dan sebagainya.”desak ia. Bulzn k3nasional harus lebih digaungkan lagi sebagai bentuk promosi K3, jelas pemilik falsafah hidup tidak pernah berhenti belajar ini.
           Ia melihat, kendala yang di hadapi pemerintah selama ini adalah minimnya pengawas ini di lapangan. Seharusnyalah, di setiap perusahaan ada pengawas K3-nya sebagai kepanjangan tangan pemerintah yang pengawas tersebut di awasi dan di bina terus oleh pemerintah, gagas ia. Musphiyantoberharap k3 kedepan terus di tingkatkan dan dapat di menjadi budaya hidup sehari hari, setip orang saling mengingatkan , ajak ia
Dikutip oleh majalan KATIGA .

BISNIS K3, BISNIS TINGKAT “DEWA”

BISNIS K3, BISNIS TINGKAT “DEWA”

Robert Louis Stevenson dalam buku yang sangat terkenal – Manajemen Pemasaran yang ditulis oleh Philip Kotler – mengamati “ setiap orang hidup dari menjual sesuatu “. Dari sumber lain menyatakan bahwa untuk berhasil menjual jasa atau barang, seseorang harus berhasil melalui dua penjualan sebelumnya, yaitu : menjual “diri” dan menjual ide.

Penjual harus terlebih dahulu dapat diterima – kalau tidak diusir – agar idenya bisa didengar kemudian diterima dan ditindak lanjuti dengan aksi nyata berupa pembelian jasa atau barang yang ditawarkan.

Kotler menjelaskan bahwa konsep penjualan berasumsi bahwa para konsumen biasanya menunjukkan hasrat beli yang lemah atau menunjukkan penolakan, dan perlu dibujuk atau diperlakukan dengan ramah, sabar agar mereka lebih bernafsu untuk membeli ( jasa atau barang ). Konsep penjualan dilaksanakan dengan cara yang amat agresif untuk “ barang-barang yang tidak diharapkan”( unsoughtgoods ) seperti asuransi, ensiklopedi dan petak tanah untuk kuburan. Pengalaman menunjukkan bahwa bisnis jasa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) termasuk dalam kategori unsought services karena masih banyak yang menganggapnya lebih sebagai biaya daripada sebuah investasi. Lihat saja beberapa semboyan dan seruan tentang K3, masih selalu berusaha mengingatkan K3 sebagai keutamaan, pilihan untuk hidup selamat, aman dan sehat setiap saat, berusaha menjadikannya sebagai jalan hidup menuju sejahtera dan bahagia serta upaya menjadikannya budaya bangsa.

image001
Gambar slide, dikutipdariThe Business Case for Safety, OSHA.

Phenomena gunung es tentang biaya kecelakaan kerja masih populer dalam slide-slide sosialisasi K3, mencoba membuka mata dan meyakinkan para pengambil keputusan tentang keniscayaan biaya yang tidak terlihat pada sebuah kecelakaan kerja.

Usaha Jasa K3 yang dibuka seluas-luasnya bagi pebisnis adalah upaya pemerintah Indonesia,  Kementerian Ketenagakerjaan RI untuk mengikut sertakan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan pengawasan K3, mulai dari tahap konsultasi, pabrikasi, pemeliharaan, reparasi, penelitian, pemeriksaan, pengujian audit K3 dan pembinaanK3.Kesempatan berusaha ini diatur dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI, No. PER.04/MEN/1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3).

Sebagai perusahaan jasa K3 maka konsep penjualan yang dijelaskan oleh Kotler tersebut diatas berlaku. Maka untuk berhasil mendapatkan transaksi penjualan jasa, PJK3 harus terlebih dahulu sukses melalui 2jenis penjualan sebelumnya. Lalu bagaimana jika penjualan mandek, hanya sampai pada penjualan kedua; menjual ide ?. Sedangkan transaksi penjualan jasa atau PO tidak kunjung tiba ?.

Dijamin ! PJK3 dan karyawannya tetap akan menerima PO atau transaksi dalam bentuk lain. Karena dengan berusaha menjual ide tentang manfaat penerapan K3 di tempat kerja adalah perbuatan baik.Mengingatkan, menjelaskan dan memotivasi bahwa dengan K3 perusahaan dapat memelihara kwalitas hidup tenaga kerjanya dan menjamin kesinambungan bisnisnya adalah sebuah kebajikkan. Ketika hal ini saya posting di WA group profesi K3, umpan balik pertama yang diterima adalah : bisnis K3 = bisnis tingkat dewa, tidaklah balasan suatu kebaikan selain kebaikan pula. Amiiiin yaa Rabb.

( Musphyanto Chalidaputra )

Bahan bacaan :
1. Menteri Ketenagakerjaan RI, Peraturan No. PER.04//MEN/1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3).
2. Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, Penerbit Airlangga, Jakarta, 1990.
3. OSHA, The Business Case for Safety, March 2005, https://www.slideshare.net/windsgroup/
business-case- safety20050621

KESIAP-SIAGAAN DAN TANGGAP DARURAT PADA KECELAKAAN KERJA DALAM PEKERJAAN PADA KETINGGIAN

KESIAP-SIAGAAN DAN TANGGAP DARURAT

PADA KECELAKAAN KERJA DALAM PEKERJAAN PADA KETINGGIAN

Apakah seorang tenaga kerja pada ketinggian yang bekerja dengan alat pelindung diri (APD) dan alat penahan jatuh perorangan ( APJP ) lengkap sudah terjamin keselamatannya terhadap bahaya jatuh ? Jawabannya tidak !

Alat penahan jatuh perorangan adalah seperangkat alat yang mampu mengurangi dampak jatuh terhadap tubuh seorang tenaga kerja. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kinerja APJP tersebut apakah dapat mengurangi dampak jatuh sebagaimana yang dirancang dan diharapkan.Faktor tersebut antara lain adalah :

  • Rancangan / desain APJP itu sendiri dan pemilihan
  • Cara penggunaan yang baik dan benar
  • Kesiap-siagaan dan tanggap darurat pada kecelakaan kerja korban tergantung.

Rancangan / desain APJP dan pemilihan yang tepat untuk pekerjaan di atas menara telekomunikasi serta cara penggunaannya yang baik dan benar telah sering dibahas dalam beberapa kesempatan. Pada kesempatan ini akan dibahas Kesiap-siagaan dan tanggap darurat pada kecelakaan kerja di menara telekomunikasi.

Sebaik apa pun rancangan / desain APJP, setepat apa pun pemilihannya, kemudian telah pula digunakan secara baik dan benar oleh tenaga kerja terlatih dan berpengalaman, bahaya jatuh ketika bekerja di atas menara telekomunikasi tidak bisa dihilangkan sampai nol (zero). Tetapi hanya bisa mengurangi kemungkinan ( probability ) dan dampak ( impact ) sehingga risiko dapat ditekan sampai batas yang dapat diterima ( accepted ).

Risiko yang dapat diterima tersebut bukan berarti berdiri sendiri, tetapi harus disertai dengan upaya-upaya menekan dampak jatuh dan tergantung pada APJP  sampai batas yang sekecil-kecilnya yang secara tata-kelola dan teknik masih dapat dilakukan. Yaitu : Kesiap-siagaan dan tanggap darurat.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Pekerjaan pada Ketinggian, BAB III Prosedur Kerja, pasal 6, ayat (2.e) mewajibkan adanya kesiap-siagaan dan tanggap darurat.

Rencana tanggap darurat tersebut wajib dibuat oleh pengusaha dan/ atau pengusaha secara tertulis. ( pasal 9, ayat (1).

Dalam pasal 9, ayat (2) diuraikan apa saja Rencana tanggap darurat tersebut, yaitu yang terdiri dari :

  1. Daftar tenaga kerja untuk ( yang mampu) melakukan pertolongan korban pada ketinggian.
  2. Peralatan yang wajib disediakan untuk menangani kondisi darurat yang paling mungkin terjadi.
  3. Fasilitas Pertolongan pertama pada kecelakaan serta sarana evakuasi.
  4. Nomor telepon dari piha-pihak terkait dalam penanganan tanggap darurat; dan
  5. Denah lokasi dan jalur evakuasi korban menuju rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Teknisi yang bekerja pada ketinggian menara telekomunikasi mempunyai kemungkinan jatuh yang lebih besar dibanding tenaga kerja lain yang bekerja pada bangunan tinggi, karena struktur bangunan menara yang berupa rangka baja dan karakter pekerjaan yang menuntut banyaknya pergerakan vertikal, horisontal serta bekerja dalam posisi miring.

Menara telekomunikasi juga banyak yang berlokasi di daerah terpencil, sehingga datangnya bantuan pertolongan dari luar tim kerja dapat sangat lama.

“ TAK KENAL MAKA TAK WASPADA “

Setiap tenaga kerja yang memanjat menara telekomunikasi harus mengenal bahaya apa saja yang mengancamnya, meskipun ia telah menggunakan APJP.

1
Gambar dikutip dari : www.cras.ca

Apa saja bahaya tersebut? Ada 3 bahaya yang mengancam seorang tenaga kerja yang terjatuh dari ketinggian  dan tergantung pada APJP-nya, yaitu :  Terbentur, tersentak dan tergantung.

  1. Terbentur

Seorang tenaga kerja yang terjatuh dari tempatnya berpijak akan meluncur menuju permukaan tanah karena daya tarik bumi ( gravitasi ). Dalam perjalanan meluncur permukaan tanah tersebut korban dapat saja membentur objek yang ada dibawahnya. Oleh karena itu pastikan bahwa jalur jatuh tidak terdapat objek yang membahayakan.

Perlunya diperhatikan posisi angkur APJP dengan tempat berpijak tenaga tenaga kerja. Apabila tegak lurus ke arah permukaan tanah, maka meluncur jatuhnya akan tegak lurus juga. Tetapi apabila membentuk sudut, maka setelah tertahan oleh APJP korban akan berayun (swing) ke arah tegak lurus, ayunan ini dapat membentur objek. Jadi perhatikan fall clearance dan swing.

  1. Tersentak

Seorang tenaga kerja yang jatuh dan tertahan oleh APJPnya akan mengalami sentakan. Berapa besarnya tenaga sentakan tersebut adalah sesuai dengan hukum newton. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kemampuan tubuh untuk menerima sentakan ( force energy ) adalah maksimal 6 kilo newton. Lebih dari jumlah tersebut dapat menimbulkan cidera sampai pada kematian. Untuk mengurangi besarnya force energymaka  :

2
Gambar diolah dari : www.petzl.com
  • selalu kaitkan / pasang angkur APJP pada posisi di atas

kepala, minimal sebatas dada,

  • gunakan tali penahan jatuh sependek mungkin sampai

batas kenyamanan bekerja.

  • Selalu gunakan APJP yang mempunyai alat / mekanisme

Peredamkejut ( absorber )

  • Gunakan fullbody harness yang mampu mendistribusikan

tenaga hentakan ke beberapa titik di tubuh.

 

  1. Tergantung

Apakah seorang tenaga kerja pada ketinggian menara telekomunikasi yang bekerja dengan alat pelindung diri (APD) dan alat penahan jatuh perorangan ( APJP ) lengkap sudah terjamin keselamatannya terhadap bahaya jatuh ? Jawabannya tidak !

3
Gambar dikutip dari : www.rororescue.com

Dalam posisi tergantung dengan fullbody harness, peredaran darah korban akan terjepit oleh fullbody harness, terutama pada bagian selangkangan. Hambatan tersebut akanmenimbulkan gangguan fungsi organ-organ tubuh. Gangguan awal adalah bagian kaki mulai dari selangkangan ke bawah menimbulkan gejala rasa kebas, dalam waktu sekitar 12 menit gangguan tersebut bisa berlanjut pada tubuh bagian tengah dimana terdapat organ penting yang memompa aliran darah ke seluruh tubuh , yaitu jantung dengan gejala menurunnya detak jantung dan rendahnya tekanan darah. Apabila korban tidak segera diselamatkan, korban akan mengalami gangguan fungsi otak, yaitu hilangnya kesadaran, hilangnya kemampuan otot leher unntuk menahan beban kepala, sehingga kepala menjadi lunglai, serta mengendornya otot-otot di saluran pernapasan sehingga menyumbat jalan napas. Pada tingkat ini akan menyebabkan otak korban kekurangan oksigen yang dapat berakhir dengan kematian dalam 30 menit.

Peristiwa ini disebut dengan ketidak tahanan tergantung ataususpension traumaatau suspension intolerance atau syncope.

Untuk mencegah terjadinya suspension intolerance adalah dengan cara :

  • Jangan memakai fullbodyharness terlalu ketat, sehingga ketika tergantung masih memungkinkan melakukan perubahan posisi tubuh di dalam fullbody harness agar pembuluh darah yang terjepit dapat dilonggarkan.
  • Bekerja dan bergerak sehati-hati mungkin , fokus agar jangan sampai tergelincir, hilang keseimbangan yang menyebabkan jatuh.
  • Hal-hal lain yang dapat menyebabkan berkuranganya keseimbangan tubuh, misalnya fatik ( lelah amat sangat ) atau dehidrasi.

 

PENYELAMATAN KORBAN JATUH DAN TERGANTUNG

Dari ketiga potensi bahaya jatuh tersebut, tersentak dan tergantung sudah pasti akan dialami oleh korban yang menggunakan perangkat penahan jatuh perorangan yang kemudian tergantung pada ketinggian.

Seorang tenaga kerja yang mengalami kecelakaan tersebut seyogyanya mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi jika korban tidak mampu, maka upaya penyelamatan yang tercepat hanya dapat diharapkan datang oleh anggota tim kerja lain yang berada di lokasi. Oleh karena itu, sebagai prosedur keselamatan bakuadalah apabila ada teknisi yang sedang memanjat dan bekerja pada ketinggian, harus ada minimal 1 (satu) orang lagi yang bersiaga di permukaan tanah untuk memberikan pertolongan atau mencari bantuan apabila terjadi kecelakaan.  Seseorang yang bersiaga tanggap darurat ( standby rescuer ) tersebut juga harus dilengkapi dengan peralatan evakuasi yang memadai.

RINGKASAN

Menggunakan alat penahan jatuh perorangan ketika bekerja pada ketinggian belum menjamin keselamatan tenaga kerja yang jatuh dan tergantung pada alat penahan jatuhnya. Ada 3 bahaya yang mengancam tenaga kerja yang terjatuh tersebut yaitu : terbentur, tersentak dan tergantung.

Menteri Ketenagakerjaan RI dalam peraturan Nomor 9 tahun 2016 mewajibkan setiap pengusaha / pengurus perusahaan  untuk mempunyai kesiap-siagaan dan rencana tanggap darurat kecelakaan kerja pada ketinggian, termasuk ketersediaan peralatan evakuasi korban dari ketinggian dan perlengkapan P3K.

Apabila ada seorang tenaga kerja bekerja pada ketinggian, maka harus ada satu orang lagi yang siaga di bawah untuk memberikan pertolongan atau mencari bantuan apabila terjadi kecelakaan korban tergantung.

Bahan bacaan :

  1. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan kesehatan Kerja dalam pekerjaan pada ketinggian.
  2. Suspension Trauma : A Lethal cascade of events, Dr. Norman Wood, Internet, www.fallsafety com.
  3. Fall energy and fall factors, www.samarbeidforsikkerhet.no
  4. Guidance on rescue during working at height, The Work at Height Safety Association, www.liftingsafety.co.uk

Musphyanto Chalidaputra